Covenant Protestant Reformed Church
Bookmark and Share

Jangan Biarkan Mereka Bercerai

Pdt. Angus Stewart

 

(1)

Kita telah melihat terbitan Buletin yang terakhir bahwa I Korintus 7:1-9 mengajarkan: (1) jikalau anda memiliki karunia untuk menguasai diri dari seksual, anda seharusnya tetap lajang; (2) jikalau anda tidak memilikinya – dengan melihat keadaan pada umumnya – anda seharusnya menikah; (3) jikalau anda menikah, persetubuhan seksual adalah sebuah kewajiban yang harus anda lakukan bagi pendamping/istri anda.

Bercerai dikatakan 5 kali dalam ayat 10-13 dengan 3 kata Inggris yang berbeda (dan 2 kata Yunani yang berbeda). ”depart” ada dalam ayat 10 dan 11, ”put away” di ayat 11 dan 12, dan ”leave” di ayat 13. Dalam ayat-ayat ini, perceraian ditentang dalam pernikahan Kristiani (10-11) dan dalam pernikahan yang berbeda keyakinan antara orang percaya dengan orang belum percaya (12-13)

Beberapa ayat 10-12 disalahgunakan untuk menyangkal bagian-bagian dari Alkitab sebagai Firman Allah: “Kepada orang-orang yang telah kawin aku – tidak, bukan aku, tetapi Tuhan – perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya.

Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya. Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia. “Bukan aku”, mereka katakan, “Tuhan perintahkan hal melainkan Paulus (dan bukan Tuhan) yang mengatakan pendapa pribadi: ”tetapi perintah ini aku yang mengatakan, bukan Tuhan”. Jika hal ini diberikan, mungkin terdapat juga sedikit juga tulisan-tulisan Paulus yang belum diinspirasikan. Bagaimana dengan ketundukan istri kepada suami atau ”Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar” (1Tim. 2:12) atau ajaran Paulus mengenai penciptaan (yang menolak evolusi) atau Roma 9 mengenai pemilihan yang tidak bersyarat dan reprobasi (pelewatan anugerah dari Allah)? Ataukah mungkin tidak ada sedikit pun inspirasi dalam tulisan rasul Yohanes atau nabi Yesaya atau rasul Matius, dsb.?

Pandangan-pandangan semacam ini berkontradiksi bahkan dengan kesaksian Paulus dalam I Korintus. Dia adalah guru yang ditunjuk Allah untuk menuliskannya oleh tuntunan Roh Allah (7:17, 40). ”Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan”. (1Kor.14:37). Selain itu, ”Segala tulisan yang diilhami Allah” (2Tim. 3:16). Karena I Korintus adalah Kitab Suci, I Korintus adalah diinspirasikan dari Allah.

Di sini penjelasan yang benar. Dalam I Korintus 7:10-11, sang rasul meringkaskan pengajaran dari Tuhan Yesus ketika Dia masih di bumi: ”Kepada orang-orang yang telah kawin aku – tidak, bukan aku, tetapi Tuhan – perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya. Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya.” Dengan kata lain, hal inilah yang Yesus ajarkan dalam pelayanan umumnya mengenai pernikahan antar kaum yang mengaku percaya.

Dalam I Korintus 7:12-13, Paulus menyampaikan suatu situasi yang yang belum muncul selama pelayanan Kristus di Palestina. Bagaimana mengenai pernikahan campuran (dalam dunia orang bukan Yahudi)? Dengan ini Injil telah tiba kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi, dan terkadang salah satu dari pasangan kekasih telah beralih keyakinan sedangkan yang lainnya belum. Yesus belum berbicara kejadian dalam topik ini selama pelayanan di dunia. Karena itu sang rasul menulis, ”Kepada orang-orang lain [yakni, orang percaya yang bukan Yahudi yang telah menikah dengan yang belum percaya] aku <katakan>, bukan Tuhan [Yesus]: kalau ada seorang saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia” (12).

Hal ini bukanlah hanya dalam I Korintus 7:10-11 bahwa Paulus mengutip pengajaran Kristus selama pelayanan publik-Nya. Sang rasul menuliskan, ”seorang pekerja patut mendapat upahnya.” (1Tim. 5:18) yang mengutip Lukas 10:7. Dalam Kis. 20:35, Paulus mendesak para penatua Efesus “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” dalam I Korintus 9:14, Demikian pula Tuhan telah menetapkan [yakni, diperintahkan], bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.” Bersamaan dalam seluruh ketiga tempat itu, Paul terus mengacu kepada ajaran Kristus untuk menolong pelayanan-pelayanan Injil dan orang-orang percaya.

Di bawah ada 3 kutipan dari Tuhan kita mengenai perceraian, salah satu dari ketiga catatan Injil: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.” (Mat. 5:32). “Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah." (Mark. 10:11-12). ”Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah." (Luk. 16:18).

Sang rasul meringkaskan ajaran-ajaran Kristus. Pertama, jangan bercerai: ”seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya... Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya.” (1Kor. 7:10-11). Kedua, bagaimana jika pendampingmu meninggalkan anda dan menceraikannya (atas dasar percabulan yang alkitabiah [Mat. 5:32] atau sebaliknya)? Firman Allah memberikan anda 2 pilihan: baik ”tetap tidak menikah” (secara sah di hadapan pegawai negri sipil) atau ”didamaikan kembali” dengan suami atau istri anda (karena anda masih ”satu daging” dengan dia). Kitab Suci yang sakral tidak mengizinkan pilihan ketiga. ”tetapi jikalau ia bercerai” atau ”tetap hidup tanpa suami” atau ”berdamai dengan suaminya” (11). Pernikahan lagi ketika pendampingnya masih hidup bukanlah satu pilihan.


(2)

Dari pembahasan kita dari I Korintus 7:10-11 terakhir, hal ini jelas, pertama, bahkan orang Kristen mungkin tergoda untuk bercerai. Mungkin hal ini merupakan satu hal bahwa orang-orang Korintus menulis kepada Paulus dan bertanya tentang hal tersebut (1). Tentunya diri Paulus berbicara mengenai perihal ini: ”seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya... Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya.” (10-11). Terdapat 2 prinsip salah yang utama , yang bergumul untuk bercerai. Asketisme meyakini bahwa kelajangan dan tidak melakukan seksual dalam pernikahan, lebih kudus daripada pernikahan dengan persetubuhan seksual. Paulus nyatanya menyerang hal tersebut, khususnya dalam I Korintus 7:4-5. Lawan ekstrim dari asketisme, hawa nafsu, juga merupakan ancaman untuk pernikahan, [yang mengatakan]: ”aku menginginkan wanita itu, aku akan menceraikan istriku sehingga aku dapat memiliki wanita itu.” Orang Kristen yang mengaku bahkan mengatakan bahwa Allah memberitahukannya dalam mimpi untuk bercerai dan menikah lagi! Tetapi kini kita memiliki Kitab Suci yang diilhamkan Allah dan bersifat cukup adanya (2Tim. 3:16-17); Allah tidak lagi berkata melalui mimpi. Segala macam alasan yang licik dan dusta mengatakan: “lelaki [atau wanita] itu yang aku inginkan, lebih Kristen [rohani] ketimbang pendampingku kini, maka aku akan bercerai dan menikah lagi dengan yang lebih saleh.” Jangan bermain dengan percobaan untuk bercerai. Pikirkanlah hal itu dengan kepala dingin!

Kedua, gereja-gereja dan kaum percaya harus diyakinkan sepenuhnya dari dosa perceraian yang tidak alkitabiah. Jika seorang wanita bercerai, dia menggoda suaminya untuk melakukan perzinahan, dan dia juga menyerahkan dirinya untuk godaan ini juga. Yesus berkata, ”Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.” (Mat. 5:32). Bercerai yang tidak alkitabiah juga berarti bahwa pasangan tersebut kini tidak memenuhi kewajiban persetubuhan seksual satu dengan yang lain (1Kor. 7:4-5). Inilah dosa yang melawan baik perintah [10 hukum] ke 7 dan 8. Bercerai yang tidak alkitabiah juga melanggar ikatan pernikahan Allah menciptakan seorang laki-laki dan seorang perempuan menjadi satu daging, tetapi kemudian yang satu atau keduanya berusaha menyudahi apa yang Allah telah satukan (Mat. 19:5-6). Pikirkanlah juga gambaran Kristus dengan gereja-Nya. Kristus tidak pernah menceraikan gereja-Nya, dalam PL atau di PB. Kaum Kristen disebutkan untuk merefleksikan kesetiaan-Nya dan kasih-Nya. Tuhan berkata bahwa Dia membenci perceraian (Mal. 2:16). Maka bercerai dinyatakan terlarang: ”seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya... Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya” (10-11).

Ketiga, percabulan hanyalah alasan alkitabiah untuk bercerai (Mat. 5:32; 19:9). Menarik diri bukanlah alasan untuk bercerai, sebagaimana kita akan lihat ketika kita mempertimbangkan ayat 15 nanti dalam seri I Korintus 7 ini. Ray Sutton menjelaskan alasan-alasan perceraian ini sama seperti menyembah berhala, sihir, ramalan, spiritisme, menghujat, bernubuat palsu, melanggar hari Sabat, membunuh (termasuk pelecehan fisik), menarik diri (secara badani dan seksual), dosa-dosa seksual, kegagalan berulang dari seorang bapa untuk menyediakan kebutuhan rumah tangga secara ekonomi, memberontak melawan otoritas alkitabiah dan bersumpah dengan maksud jahat. Rekan dari Rekonstruksi Kristen, Rousas Rushdooney, berbicara hal serupa. Pengakuan Westminster 24:6 mengamati dengan benar bahwa ” Kerusakan manusia [adalah] sebegitu parahnya, sehingga ia cenderung mencari alasan-alasan untuk menceraikan dengan cara tidak sah apa yang telah Allah satukan dalam perkawinan.” Tidak perduli tantangan, masalah dan kesedihan apa pun yang mungkin ada dalam pernikahan (1Kor. 7:26, 28, 32), percabulan adalah hanya alasan untuk bercerai (Mat. 5:32; 19:9), dan bahkan dalam kasus percabulan, mereka tidak seharusnya bercerai.

Keempat, kaum yang bercerai memiliki dua dan hanya dua pilihan. Pertama adalah ”tetap tidak menikah” (1Kor. 7:11), di mana Kristus menyebutkan bahwa ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga (Mat. 19:12). Pilihan lain adalah ”didamaikan kembali” dengan pendamping anda (1Kor. 7:11). Tidak ada izin yang diberikan untuk menikah kembali. Bahkan setelah bercerai, wanita tersebut dikatakan bahwa lelaki itu adalah masih “suaminya” (11).

Kelima, bercerai (di sini mengacu kepada departing, put away dan leaving [10-11]) bukan berarti boleh menikah kembali. Kaum yang diceraikan memiliki dua pilihan, antara tetap tidak menikah atau didamaikan kembali dengan pendamping mereka sebelumnya (11). Bercerai tidak membuat pilihan ketiga, yakni menikah kembali. Setelah bercerai, dia masih di dalam pengawasan Allah – pengawasan yang mahatahu! – suaminya dan pendampingnya masih merupakan istrinya. Setelah bercerai, baik keduanya tidak dapat menikah lagi sepanjang mereka hidup. Hanya karena perihal kematianlah yang memutuskan ikatan pernikahan (Rom. 7:2-3; 1Kor. 7:39). Allah menciptakan ikatan dalam pernikahan. Allah juga yang memutuskan ikatan tersebut pada kematian. Tidak ada baik manusia atau negara atau gereja atau perzinahan atau perceraian atau dosa atau Setan dapat memutuskan pernikahan. Allah menyatukan dua orang dalam pernikahan dan hanya Dia yang dapat memutuskan ikatan tersebut (pada kematian).

Keenam, semuanya ini juga merupakan pengajaran Tuhan Yesus selama pelayanan publik-Nya: “Kepada orang-orang yang telah kawin aku – tidak, bukan aku, tetapi Tuhan…” (10-11). Matius 19:9 satu-satunya nas Alkitab, kelihatannya memungkinkan, untuk mendukung pernikahan kembali ketika pendamping seseorang masih hidup. Tetapi kenapa ayat ini saja yang mengajarkan hal ini; dan bagaimanakah ayat ini bisa berkontradiksi dengan ayat yang lain (Mat. 5:32; Mark. 10:11:12; Luk. 16:18; Rm. 7:2-3; 1Kor. 7:39); dan bagaimanakah hal ini membuat murid-murid Tuhan terkejut dan bertanya, “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin” (Mat. 19:10). Tetapi rasul Paulus yang diinspirasikan [Roh Kudus] meringkaskan 2 pilihan pengajaran Tuhan mengenai orang yang bercerai: ”tetap tidak menikah, atau diperdamaikan kembali” kepada pendamping mereka (1Kor. 7:11). Maka Matius 19:9 tidak memperbolehkan untuk bercerai dan menikahkan kembali. Klausa pengecualiannya (“kecuali karena zinah”) hanya memberikan izin untuk bercerai tetapi tidak untuk menikah kembali [dengan orang lain, selain pendamping sahnya] setelah bercerai.

Untuk bahan-bahan lain dalam bahasa Indonesia, klik di sini.